KONAWE — Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Konawe pada Rabu (30/9/2026) berlangsung dengan tensi tinggi. Rapat yang secara khusus membahas evaluasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini diwarnai kemarahan wakil rakyat terhadap respons pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Langkah tegas DPRD Konawe mengendalikan forum tersebut merupakan buntut dari insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan warga sekolah di SMA Negeri 20 Konawe, Kecamatan Tongauna, pada Kamis (24/9/2026). Tercatat sebanyak 59 orang terdiri dari 58 siswa dan seorang guru mengalami gejala gangguan kesehatan seperti mual dan muntah hingga harus mendapatkan perawatan medis mendesak usai menyantap hidangan MBG.
Tak hanya memanggil pengelola SPPG Tongauna/Asao yang bertanggung jawab menyuplai makanan ke SMAN 20 Konawe, DPRD Konawe turut menghadirkan seluruh penanggung jawab SPPG se-Kabupaten Konawe guna melakukan evaluasi total atas kelaikan dan keamanan pangan program nasional tersebut.
RDP dipimpin oleh jajaran anggota legislatif, di antaranya Abdul Ginal Sambari, Dedy, Fakhruddin, Ir. Joni Pisi, dan Kristian Tandabioh.
Suasana forum mendadak memanas ketika anggota DPRD Konawe dari Partai Gerindra, Dedy, bereaksi keras terhadap gestur tidak etis dari salah satu oknum pengelola SPPG yang tertangkap kamera sedang bertepuk tangan di tengah pembahasan insiden kritis tersebut.
“Kalian ini apa, siapa tadi yang tepuk tangan! Saya lihat sendiri dari depan salah satu pihak SPPG. Kalian ini sudah menyebabkan masalah kesehatan pada anak-anak, malah tepuk tangan. Buta hati kalian ini!” cecar Dedy dengan nada geram di hadapan peserta rapat.
DPRD Konawe menegaskan bahwa penanganan insiden MBG tidak boleh dianggap remeh. Evaluasi ketat terhadap standar operasional prosedur (SOP) higienitas dan kualitas masakan di seluruh dapur SPPG di Kabupaten Konawe akan menjadi prioritas utama demi menjamin keselamatan para siswa.
(hsn)












